You cannot touch without being touched...(Newton's third law in Hewitt)

Senin, 16 Juli 2012

Postulat Bohr Anti Galau

Cerita ini hanya fiktif belaka jika ada kesamaan nama itu adalah hal yang nggak sengaja, tapi ada juga yang sengaja

Tuing tuing.

Layar TV hitam putih menyala. Gambarnya kabus-kabus terang, kadang-kadang muncul sedikit bercak-bercak hitam. Seorang presenter bule berbahasa Inggris

dengan logat British muncul di TV itu. Kira-kira beginilah artinya

“Ladies and gentleman, tahun 1913 fisikawan asal Denmark, Niels Bohr mengeluarkan postulatnya tentang model atom. Postulat Bohr memperbaiki dua teori atom gurunya sekaligus, yaitu J.J Thomson (penemu elektron) dan Rutherford (penemu nukleus). Tak tanggung-tanggung teori atomnya itu membawanya menjadi penerima hadiah nobel pada tahun 1922 setahun setelah Einstein mendapatkan nobel. Bahkan dia dinobatkan sebagai tokoh ke 100 yang berpengaruh dalam sejarah yang disusun Michael H. Hart.”

“Bohr mempostulatkan, elektron-elektron mengelilingi inti atom pada orbit (lintasan) tertentu seperti orbit planet-planet mengelilingi matahari. Elektron dapat pindah dari lintasannya ke lintasan yang lain, misalnya lintasan planet mars pindah ke lintasan bumi atau sebaliknya. Tapi jangan pikir kalau planet pindah-pindah lintasan, kacau nanti, bayangin aja kalau lintasan bumi kita pindah ke lintasan jupiter, setahun udah gak 365 hari lagi dunks.”

“Oke deh lanjut. Setiap elektron di setiap lintasan memiliki energi yang besarnya tertentu (udah di jatah kian). Elektron dengan energi paling rendah (ground state) berada pada lintasan paling dekat dengan inti atom, makin jauh dari inti atom makin besar energinya.”

“Lantas gimana caranya elektron itu bisa pindah lintasan?"

sumber : kimia.upi.edu

“Kalau elektron menyerap foton (cahaya) maka elektron tersebut akan berpindah ke lintasan luar (menjauhi inti atom), tapi kalau elektron memancarkan foton maka elektronnya pindah ke lintasan lebih dalam (mendekati inti atom).”

Bulenya ngilang. Layar hitam putih kabus-kabusnya juga ngilang.

TV layar sentuh tiba-tiba muncul.

Bulenya uda nongol lagi di layar itu.

“Tahun 2012 seorang mahasiswa berkebangsaan Indonesia memandang postulat Bohr dari sudut pandang yang berbeda. Dia menamakannya dengan postulat Bohr anti galau. Sungguh mengguncang dunia persilatan dan perjombloan. Mahasiswa ini tidak ingin diketahui nama aslinya demi menjaga keamanannya. Oleh sebab itu dia hanya mengatakan nama samarannya, Sarif. Berikut liputannya.”

Bule (B), Sarif (S)

B: Kabarnya postulat Bohr anti galau anda ini sempat mengguncang dunia perjombloan ya?

S: Hehehehe, biasa aja lah le. Jangan ngurang-ngurangin lah.

B : coba anda ceritakan tentang postulat ini.

S : jadi begini ceritanya le. Semuanya bermula ketika saya memutuskan untuk menjadi jomblo. Saat itu saya galau luar biasa. Kerjaan saya ya cuma makan, tidur, kamar mandi, makan, tidur, kamar mandi, mutar-mutar kepala, mutar-mutar di kamar, keliling-keliling dalam rumah, tapi saya tidak mau keluar rumah, hanya merenungkan nasib yang tak kunjung berubah. Saya kadang-kadang sering mengharapkan ada bidadari yang jatuh dari atap rumah. Tapi ternyata tidak ada, mungkin dia nyangkut di rumah yang lain, galau saya tak kunjung sembuh.”

B : oh, I am sorry to hear that.

S : no problem le.

B : lantas apa yang anda lakukan?

S : saya pun bingung waktu itu, mau melakukan apa-apa. Semuanya serba salah, semuanya serba pahit. Kau pernah galau juga kan le?

B : iya. Pernah, bahkan sampai saat ini. Huhuhuhu. (lalu keduanya berpelukan)

S : tenang le, tenang. Aku disampingmu.

B: maaf, saya khilaf. (si bule melepas pelukannya)

S : iya iya ndak apa-apa.

B : sebenarnya saya bela-belain mewawancari anda karena saya ingin mendengar langsung postulat anti galau secara langsung.

S : hah? Beneran?

B : Hu um.

S : baiklah aku lanjutkan cerita ku.

B : lanjutkan !

S : saat itu saya menggambar sesuatu dengan tatapan mata kosong. Lalu saya tertidur, dalam mimpi saya ketemu dengan Bohr. Dia bilang gini, “Kamu jangan terus-terusan berada di g state, g state, g state, g state.” Saya terbangun dan saya dapati pada kertas saya itu gambar lintasan-lintasan elektron. Perkataannya g state terngiang-ngiang terus di kepala saya.

B : g state?

S : iya. Lalu saya menyadari, itu dia jawabannya. G state. Saya selalu menyebutkan ground state menjadi g state kemudian saya ganti menjadi galau state. Pada energi terendahnya elektron disebut dengan g state atau dengan kata lain “galau state”.

B : jadi elektron juga bisa galau?

S : benar. Seperti hal nya kita. Pada keadaan galau state, elektron menjadi sangat lemah, energinya paling rendah, kerjaannya cuma muter-muter di dekat inti atom doang, gak bisa keluar, dan dia tak punya teman. Sungguh keadaan yang sangat menyedihkan. Tapi ada sesuatu yang bisa menolong dari kegalauannya itu.

B : apa itu?

S : Bohr sudah menyebutkannya. Bukankah tadi kau juga sudah mengatakannya di awal?

B : ah iya. Foton.

S : benar sekali. Hanya fotonlah yang dapat menyelamatkan elektron dari g state-nya. Semakin banyak ia menyerap foton semakin jauh ia akan keluar dari keadaan galaunya, dengan arti ia akan semakin baik. Dan sebaliknya kalau elektron itu memancarkan foton maka ia akan jatuh mendekati g state-nya.

B : wah iya juga ya.

S : lalu saya menghubungkannya dengan kenyataan yang saya alami. Saya butuh foton yang dapat mengeluarkan saya dari g state ini. Saya mulai membuka diri. Saya pikir sudah waktunya untuk mengakhiri kegalauan ini, karena foton saya sedang menanti di luar sana.

B : lantas apa kau sudah menemukannya?

S : beberapa sudah, tapi ada juga yang belum. Hehehe. Saya meneliti temuan saya ini. Saya menanyai beberapa teman, mengamati mereka yang sedang galau, dan ternyata orang yang galau itu karena tidak memiliki foton, menunggu-nunggu foton, tapi yang lebih parah galaunya itu yang baru aja memancarkan foton atau dengan kata lain baru saja kehilangan sesuatu, bisa juga dibilang putus.

B : tunggu dulu. Apa maksudmu dengan foton? Seorang wanitakah?

S : awalnya juga saya pikir begitu, tepi ternyata persentasenya sekitar 50% foton adalah wanita bagi lelaki atau lelaki bagi wanita.

B : mengapa bisa begitu?

S : gak semua orang galau karna cewek juga kan?

B : hm...

S : tidak semuanya, secara umum foton adalah sesuatu yang dianggap manusia dapat membahagiakan hidupnya. Bahkan manusia cenderung menganggap sesuatu yang belum ia dapat sebagai sesuatu yang sangat berharga hingga ia lupa menghargai apa yang sudah ia miliki.

B : hmm...

S : Oke, untuk kali ini kita anggap saja foton itu seorang wanita. Saya mengamati teman-teman yang memiliki wanita. Ada yang memiliki satu, dua, tiga, bahkan ada yang empat. Dari temuan ini saya simpulkan semakin banyak ia memiliki foton semakin tidak galau dirinya. Mulanya seorang pada g state-nya hanya keliling-keliling dalam rumah, ketika ia mendapatkan seorang wanita ia sudah keliling-keliling kampung, dapat lagi satu dari kampung lain dia keliling kecamatan, dapat lagi dari kecamatan lain, dia keliling-keliling kabupaten, dapat Syahrini dia sudah keliling Indonesia, hingga akhirnya dapat Megan Fox dia keliling matahari.

B : keliling matahari?

S : maksud saya keliling Indonesia. Persis seperti elektron dalam lintasannya, kalau udah nangkap foton pasti elektron lompat-lompat ke lintasan berikutnya. Jangkauannya pun makin luas.

B : oh, iya juga ya.

S : lalu, saya juga mengamati orang yang kehilangan fotonnya yang tingkat tinggi, misalnya kehilangan Megan Fox atau Syahrini biasanya mengalami galau yang lebih parah ketimbang kalau cuma kehilangan gadis sekitar rumahnya, persis seperti elektron yang di lintasan-lintasan tinggi seperti lintasan 4 misalnya, kalau udah memancarkan foton biasanya kehilangan energi yang begitu besar dibanding kalau memancarkan foton dari lintasan 2 ke lintasan 1.

B : hm, lantas bagaimana solusinya untuk mendapatkan foton itu.

S : dengan menerima diri apa adanya.

B : menerima diri apa adanya?

S : Postulat Bohr mengatakan kalau elektron berada di lintasan yang tetap, maka ia tidak akan kehilangan energi, begitulah kalau kita berada pada lintasan yang tetap maka kita tidak akan kehilangan energi juga. Kita tidak tahu saat ini kita sedang berada di lintasan yang mana sama seperti elektron itu. Tetapi elektron yang menerima dirinya apa adanya sambil berjuang terus di lintasan pasti akan mendapatkan foton yang terbaik bagi dirinya.

B : ...

S : yang penting ikhlaskan dan jangan menyerah. Jika usaha kita sudah memenuhi dan memang sudah waktunya, pasti kita akan mendapatkan foton kita. Nah mungkin hanya ini yang dapat saya jelaskan mengenai pandangan saya terhadap postulat Bohr ini.

B : udah gitu aja?

S : iya, itu aja dulu. Kenapa masih galau kan? Hayo ngaku kau le.

B : ....

B : ok terima kasih kami ucapkan atas kesediaan anda untuk diliput.

S : iya, sama-sama. :D

“Pemirsa demikianlah liputan mengenai postulat Bohr anti galau dari kami, mudah-mudahan bermanfaat. Sekian.”


Referensi :

1. Seratus tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah oleh Michael H. Hart

2. Kamajaya. 2007. Fisika untuk kelas XII Semester II. Medan: Grafindo

2 komentar:

  1. wkakaka....
    kereen...kereen.... gak sia2 dikuliahkan di unimed... hehehe....
    ^,^}d

    BalasHapus

Terima kasih sudah mengunjungi blog saya...